Legalitas

ANGGARAN DASAR YAYASAN KOMUNITAS BERDAYA INDONESIA

 

BAB I

 

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1

  • Yayasan ini bernama YAYASAN KOMUNITAS BERDAYA INDONESIA (selanjutnya dalam anggaran dasar ini cukup disingkat dengan Yayasan)
  • Yayasan ini berkedudukan di Kota Administrasi Jakarta Selatan,Jl Audio No 45, Komplek TVRI, Grogol Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
  • Yayasan ini resmi didirikan pada tanggal 19 Januari 2016 M
  • Yayasan dapat membuka kantor cabang atau perwakilan di tempat lain, baik di dalam maupun di luar Wilayah Negara Republik Indonesia berdasarkan persetujuan pengurus dan pembina

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

Yayasan ini mempunyai maksud dan tujuan di bidang Keagamaan,  Sosial, Kemanusiaan, Pendidikan dan Penelitian

KEGIATAN

Pasal 3

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas, Yayasan menjalankan kegiatan nya sebagai berikut: Bidang Sosial
  • Lembaga Pendidikan formal dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan perguruan Tinggi. Dan pendidikan non formal seperti : Kursus-kursus dan Ketrampilan-ketrampilan.
  • Panti Asuhan dan Panti jompo.
  • Rumah Baca.
  • Penelitian di bidang ilmu pengetahuan terutama di bidang media.
  • Studi Banding.
Bidang Kemanusiaan
  • Memberikan bantuan kepada korban bencana alam.
  • Memberikan bantuan kepada pengungsi akibat bencana alam.
  • Memberikan bantuan kepada tuna wisma, fakir miskin dan gelandangan.
  • Memberikan perlindungan konsumen.
  • Melestarikan lingkungan hidup
Bidang Keagamaan
  • Mendirikan sarana ibadah
  • Menerima dan menyalurkan amal zakat, infaq dan sedekah
  • Meningkatkan pemahaman keagamaan
  • Melaksanakan syiar keagamaan
  • Studi banding keagamaan

JANGKA WAKTU

Pasal 4

Yayasan didirikan untuk jangka waktu yang tidak di tentukan lamanya.

KEKAYAAN

Pasal 5

  • Kekayaan Yayasan berasal dari sejumlah kekayaan yang dipisahkan menjadi kekayaan Yayasan dalam bentuk uang yang berjumlah sebesar Rp. 10.000.000,-(sepuluh juta rupiah).
  • Selain kekayaan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 kekayaan Yayasan juga diperoleh dari :
  • Sumbangan ( Bantuan yang tidak mengikat )
  • Wakaf
  • Hibah
  • Hibah Wasiat, dan
  • Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar Yayasan dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Semua kekayaan Yayasan harus di pergunakan untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan.

ORGAN YAYASAN

Pasal 6

Yayasan memiliki organ yang terdiri dari:
  • Pembina
  • Pengurus
  • Pengawas

PEMBINA

Pasal 7

  • Pembina adalah organ Yayasan yang mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada pengurus atau pengawas.
  • Pembina terdiri dari seorang atau lebih anggota pembina.
  • Dalam hal terdapat lebih dari seorang anggota pembina, maka seorang di antaranya diangkat sebagai ketua pembinaan.
  • Yang dapat di angkat sebaga ketua pembina adalah sebagai pendiri Yayasan atau mereka yang berdasarkan keputusan rapat anggota pembinaan yang dinilai mempunyai dedikasi yang tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan.
  • Anggota pembina tidak di beri gaji dan atau tunjangan oleh Yayasan.
  • Dalam hal Yayasan oleh karena sebab apapun tidak mempunyai anggota pembina, maka dalam waktu 30 (tigapuluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut wajib di angkat anggota Pembina berdasarkan keputusan rapat gabungan anggota pengawas dab anggota pengurus.
  • Seorang anggota pembina berhak mengundurkan diri dari jabatan nya dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksud tersebut kepada Yayasan, paling lambat 30 (tigapuluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.

Pasal 8

  • Masa jabatan Pembina tidak di tentukan lamanya.
  • Jabatan anggota Pembina akan berakhir dengan sendirinya, apabila anggota Pembina tersebut :
  • Meninggal Dunia;
  • Mengundurkan diri sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat 7;
  • Tidak lagi memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  • Diberhentikan berdasarkan keputusan rapat Pembina;
  • Dinyatakan pailit atau ditaruh dibawah pengampunan berdasarkan suatu penetapan pengadilan;
  • Dilarang untuk menjadi anggota pembina karena peraturan perundang-undangan.
  • Anggota Pembina tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus atau Pengawas.

TUGAS DAN WEWENANG PEMBINA

Pasal 9

  • Pembina berwenang bertindak untuk dan atas nama Pembina;
Kewenangan Pembina meliputi;
  • Keputusan mengenai perubahan Anggaran Dasar;
  • Pengangkatan dan pemberhentian anggota pengurus anggota pengawas;
  • Penetapan kebijakan umum Yayasan berdasarkan Anggaran Dasar;
  • Pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan Yayasan;
  • Penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran Yayasan;
  • Pengesahan laporan tahunan;
  • Penunjukan likuidator dalam hal Yayasan dibubarkan.
  • Dalam hal hanya ada seorang anggota pembina, maka segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada ketua Pembina atau anggota Pembina berlaku pula baginya.

RAPAT PEMBINA

Pasal 10

  • Rapat pembina diadakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun, paling lambat dalam waktu 5 ( lima ) bulan setelah akhir tahun buku sebagai rapat tahunan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 Pembina dapat juga mengadakan rapat setiap waktu bila dianggap perlu atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih anggta pembina, anggota Pengurus, atau anggota Pengawas.
  • Panggilan Rapat Pembian dilakukan oleh Pembina secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan da tanggal rapat.
  • Panggilan rapat itu harus mencantumkan hari, tanggal, waktu tempat, dan acara rapat.
  • Rapat Pembina diadakan ditempat keddukan Yayasan atau di tempat kegiatan Yayasan, atau di tempat lain dalam wilayah hukum Republik Indonesia.
  • Dalam hal semua anggota Pembina hadir, atau diwakili, panggilan tersebut tidak di syaratkan dan Rapat Pembina dapat diadakan di manapun juga dan berhak mengambil keputusan yang sah dan mengikat.
  • Rapat Pembina dipimpin oleh Ketua Pembina, dan jika ketua Pembina tida hadir atau berhalangan, maka rapat Pembina akan dipimpin ileh seorang yang dipilih oleh dan dari anggota Pembina yang hadir.
  • Seorang anggota Pembina hanya dapat diwakili oleh anggota Pembina lainnya dalam rapat Pembina berdasarkan Surat kuasa.

Pasal 11

  • Rapat Pembina adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila :
  • Dihadiri paing sedikit 2/3 ( dua per tiga ) dari jumlah anggota Pembina;
  • Dalam hal korum sebagaimana dimaksuda dalam ayat 1 huruf a tidak tercapai, maka dapat di adakan pemanggilan Rapat Pembina kedua;
  • Pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat;
  • Rapat Pembina kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh)  hari dan paling lambat 21 ( dua puluh satu) hari terhiyung sejak rapat Pembina pertama;
  • Rapat Pembina kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila dihadiri lebih dari 1/2 (satu per dua) jumlah anggota Pembina.
  • Keputusan Rapat Pembina diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
  • Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebuh dari 1/2 (satu per dua ) jumlah suara yang sah.
  • Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya, maka usul ditolak.
Tata cara pemungutan suara dilakukan sebagai berikut :
  • Setiap anggota Pembina yang hadir berhak mengeluarkan 1 (satu) suara dan tambahan 1 (satu)  suara untuk setiap anggota Pembina lain yang diwakilinya.
  • Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka dan ditandatangani, kecuali Ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
  • Suara yang abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.
  • Setiap Rapat Pembina dibuat berita acara rapat yang akan ditandatangani oleh Ketua Rapat dan Sekretaris Rapat.
  • Penanda tanganan sebagaimana dimaksud dalam ayat 6 tidak sisyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akta notaris.
  • Pembina dapat mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan rapat pembina, dengan ketentuan semua anggota pembina telah di beritahu secara tertulis dan semua anggota Pembina memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menandatangani persetujuan tersebut.
  • Keputusan yang di ambil sebagaimana dimaksud dalam ayat 8 mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Pembina.
  • Dalam hal hanya ada 1 ( satu ) orang Pembina, maka dia dapat mengambil keputusan yang sah dan mengikat.

RAPAT TAHUNAN

Pasal 12

  • Pembina wajib menyelenggarakan rapat tahunan setiap tahun, paling lambat 5 (lima) bulan setelah tahun buku Yayasan ditutup.
Dalam rapat tahunan, Pembina melakukan:
  • Evaluasi tentang harta kekayaan, hak dan kewajiban Yayasan tahun yang lampau sebagai dasar pertimbangan bagi perkiraan mengenai perkembangan Yayasan untuk tahun yang akan datang.
  • Pengesahan laporan tahunan yang diajukan Pengurus.
  • Penetapan kebijakan umum Yayasan;
  • Pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan Yayasan.
  • Pengesahan laporan tahunan oleh Pembina dalam rapat tahunan, berarti memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada para anggota Pengurus dan Pengawas atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan selama tahun buku yang lalu, sejauh tindakan tersebut tercermin dalam laporan tahunan.

PENGURUS

Pasal 13

  • Pengurus adalah organ Yayasan yang melaksanakan kepengurusan Yayasan yang sekurang-kurangnya terdiri dari :
  • Seorang ketua
  • Seorang sekretaris; dan
  • Seorang bendahara;
  • Dalam hal diangkat lebih dari 1 ( satu ) orang ketua, maka 1 (satu ) ornag diantaranya diangkat sebagai Ketua Umum.
  • Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu ) orang sekretaris, maka 1 (satu ) diantaranya diangkat sebagai sekretaris umum.
  • Dalam hal diangkat lebih dari 1 ( satu ) benahara, maka 1 (satu ) diantaranya diangkat sbagai bendahara umum.

Pasal 14

  • Yang dapat diangkat sebagai anggota Pengurus adalah orang perseoragan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak dinyatakan bersalah dalam melakukan pengurusan Yayasan yang menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat, atau negara berdasarkan putusan pengadilan, dalam janga waktu 5 ( lima ) tahun sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.
  • Pengurus diangkat oleh Rapat Pembina melaluirapat Pembina untuk jangka waktu 5 (lima ) tahun dan dapat di angkat kembali.
  • Pengurus dapat menerima gaji, upah atau honorium, apabila pengurus :
  • Bukan pendiri Yayasan dan tidak terafiliasi dengan Pendiri, Pembina, dan Pengawas; atau
  • Malaksanakan kepengurusan Yayasan secara langsung dan penuh.
  • Dalam hal jabatan Pengurus kosong, maka dalan jangka waktu paling lama 30 ( tigapuluh ) hari sejak terjadinya kekosongan, Pembina harus menyelenggarakan rapat, untuk mengisi kekosongan itu.
  • Dalam hal semua jabatan Pengurus kosong, maka dalam jangka waktu paling lama 30 (tigapuluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut, pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengangkat Pengurus baru, dan untuk sementara Yayasan diurus oleh Pengawas.
  • Pengurus berhak mengundurkan diri dari jabatannya dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya tersebut kepada Pembina paling lambat 30 (tigapuluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.
  • Dalam hal terdapat penggantian pengurus Yayasan, maka dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengurus Yayasan, Pembina wajib menyampaikna pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusi Republik Indonesia dan Instansi terkait.
  • Pengurus tidak dapat merangkap sebagai Pembina, Pengawas atau Pelaksana Kegiatan.

Pasal 15

Jabatan anggota Pengurus berakhir :
  • Meninggal dunia.
  • Mengundurksn diri.
  • Bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun,
  • Diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina
  • Masa Jabatan berakhir.

TUGAS DAN WEWENANG PENGURUS

Pasal 16

  • Pengurus bertanggung jawab penuh atas kepengurusan Yayasan untuk kepentingan Yayasan.
  • Pengurus wajib menyusun program kerja dan rancangan anggaran tahunan Yayasan untuk disahan Pembina.
  • Pengurus wajib memberikan penjelasan tentang segala hal yang di tanyakan oleh Pengawas.
  • Setiap anggota Pengurus wajib dengan iktikad baik dan penuh tanggiung jawab menjalankan tugasnya dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Pengurus berhak mewakili Yayasan di dalam dan di luar Pengadilan tentang segala hal dan dalam segala kejadian, dengan pembatasan terhadap hal-hal berikut :
  • Meminjam atau meminjamkan uang atas nama Yayasan (tidak termasuk mengambil uang Yayasan di Bank );
  • Mendirikan suatu usaha baru dan melakukan penyertaan dalam berbagai bentk usaha baik di dalam maupun luar negri;
  • Memberi atau menerima pengalihan atas harta tetap;
  • Membeli dengan cara lain mendapatkan / memperoleh harta tetap atas nama Yayasan;
  • Menjual dengan cara lain melepaskan kekayaan Yayasan serta mengagunkan/membebani kekayaan Yayasan;
  • Mengadakan perjanjian dengan organisasi yang terafiliasi dengan Yayasan, Pembina, Pengurus dan atau Pengawas Yayasan atau seorang yang bekerja pada Yayasan, yang perjanjian tersebut bermanfaat bagi tercapainya maksud dan tujuan Yayasan.
  • Perbuatan Pengurus sebagaimana diatur dalam ayat 5 huruf a,b,c,d,e, dan f harus mendapat persetujuan dari pembina.

Pasal 17

Pengurus tidak berwenang memiliki Yayasan dalam hal :
  • Mengikat Yayasan sebagai penjamin utang.
  • Membebani kekayaan Yayasan untuk kepepentingan pihak lain.
  • Mengadakan perjanjian dengan organisasi yang terafiliasi dengan Yayasan, Pembina, Pengurus, dan atau Pengawas Yayasan atau seseorang yag bekerja pada Yayasan, yang perjanjian tersebut tidak ada hubungan nya bagi tercapainya maksud dan tujuan Yayasan.

Pasal 18

  • Ketua Umum dengan salah seorang anggota Pengurus lainnya berwenang bertindak untuk dan atas nama pengurus serta mewakili Yayasan.
  • Dalam hal ketua Umum tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, maka seorang ketua lainnya bersama-sama dengan Sekretaris Umum atau apabila Sekretaris Umum tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga hal tersebut tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, seorang Ketua lainnya berwenang bertindak untuk atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan.
  • Dalam hal hanya ada seorang ketua, maka segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada ketua Umum berlaku juga baginya.
  • Sekretaris Umum bertugas mengelola administrasi Yayasan, dalam hal hanya ada seorang sekretaris, maka segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada Sekretaris umum berlaku juga baginya.
  • Bendhara Umum bertugas mengelola keuangan Yayasan, dalam hal hanya ada seorang bendahara, maka segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada bendahara Umum berlaku juga baginya.
  • Pembagian tugas dan wewenang setiap anggota Pengurus ditetapkan oleh Pembina melalui Rapat Pembina.
  • Pengurus untuk perbuatan tertentu berhak mengangkat seorang atau lebih wakil kuasanya berdasarkan surat kuasa.

PELAKSANA KEGIATAN

Pasal 19

  • Pengurus berwenang mengangkat dan memberhentikan pelaksana kegiatan Yayasan berdasarkan keputusan Rapat Pengurus.
  • Yang dapat diangkat sebagai Pelaksana Kegiatan Yayasana adalah orang –perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau dipidana karena melakukan tindakan yang merugikan Yayasan, masyarakat, atau negara berdasarkan keputusan pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tsnggsl putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.
  • Pelaksana kegiatan Yayasan diangkat oleh Pengurus berdasarkan keputusan Rapat Pengurus untuk jangka waktu yang tidak di tentukan dengan tidak mengurangi keputusan Rapat Pengurus untuk memberhentikan sewaktu-waktu.
  • Pelaksana kegiatan Yayasan bertanggung jawab  kepada pengurus.
  • Pelaksana kegiatan Yayasan memnerima gaji, upah atau honorium yang jumlahnya ditentukan berdasarkan keputusan rapat Pengurus.

Pasal 20

  • Dalam hal terjadi perkara di pengadilan antara Yayasan dengan anggota Pengurus atau apabila kepentingan seorang anggota Pengurus bertentangan dengan Yayasan, maka anggota Pengurus yang bersangkutan tidak berwenang untuk bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan, maka anggota  Pengurus lainnya bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan.
  • Dalam hal Yayasan mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan seluruh Pengurus, maka Yayasan diwakili oleh Pengawas.

RAPAT PENGURUS

Pasal 21

  • Rapat pengurus dapat diadakan setiap waktu bila dipandang perlu atas permintaan tertulis dari satu orang atau lebih Pengurus, Pengawas atau Pembina.
  • Panggilan Rapat Pengurus dilakukan oleh Pengurus yang berhak mewakili pengurus.
  • Panggilan Rapat Pengurus disampaikan kepada setiap anggota Pengurus secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.
  • Panggilan Rapat Pengurus itu harus mencantumkan tanggal, waktu, tempat, dan acara rapat.
  • Rapat pengurus diadakan di tempat kedudukan Yayasan atau di tempat kegiatan Yayasan.
  • Rapat Pengurus dapat diadakan di tempat lain dalam wilayah Republik Indonesia dengan persetujuan Pembina.

Pasal 22

  • Rapat Pengurus dipimpin oleh Ketua Umum.
  • Dalam hal Ketua Umum tidak dapat hadir atau berhalangan, maka Rapat Pengurus akan dipimpin oleh seorang anggota Pengurus yang di pilih oleh dan dari Pengurus yang hadir.
  • Satu orang Pengurus hanya dapat diwakili oleh Pengurus lainnya dalam rapat Pengurus berdasarkan Surat Kuasa.
  • Rapat pengurus sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila:
  • Dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) jumlah pengurus.
  • Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengurus kedua.
  • Pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.
  • Rapat Pengurus kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak rapat Pengurus pertama;
  • Rapat pengurus ke dua sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila dihadiri lebih dari ½ (satu per dua) jumlah pengurus.

Pasal 23

  • Keputusan Rapat Pengurus harus diambil
  • Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari ½ (satu per dua) jumlah suara yang sah.
  • Dalam hal suara yang setuju dan tidak setuju sama banyaknya, maka usul ditolak.
  • Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara tertutup tanpa tandatangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali ketu Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
  • Suara yang abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.
  • Setiap rapat pengurus dibuat berita acara rapat yang ditandatangani oleh ketua rapat dan 1 (satu) orang anggota pengurus lainnya yang ditunjuk oleh rapat sebagai sekretaris rapat.
  • Penandatangan yang dimaksud dalam ayat 6 tidak disyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akta notaris.
  • Pengurus dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan rapat pengurus dengan ketentuan semua anggota Pengurus telah diberitahu secara tertulis dan semua anggota Pengurus memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menandatangani persetujuan tersebut.
  • Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat 8, mempunyai kekuatan yang sama dengan keputuan yang diambil dengan sah dalam rapat Pengurus.

PENGAWAS

Pasal 24

  • Pengawas adalah organ Yayasan yang bertugas untuk melakukan pengawasan dan memberi nasihat kepada Pengurusdalam menjalankan kegiatan Yayasan;
  • Pengawas terdiri dari 1 (satu) orang atau lebih anggota Pengawas.
  • Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang pengawas, maka 1 (satu) orang di antaranya dapat diangkat sebagai ketua Pengawas.

Pasal 25

  • Yang dapat di angkat sebagai anggota Pengawas adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak dinyatakan bersalah dalam melakukan pengawasan Yayasan yang menyebabkan kerugian  bagi Yayasan, masyarakat, atau negara berdasarkan putusan pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.
  • Pengawas diangkat oleh Pembina melalui rapat Pembina untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali.
  • Dalam hal jabatan Pengawas kosong, maka dalam jangka waktu paling lama 30 (tigapuluh) hari sejak terjadinya kekosongan, Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengisi kekosongan itu.
  • Dalam hal semua jabatan Pengawas kosong, maka dalam jangka waktu paling lama 30 (tigapuluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut, Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengangkat Pengawas baru, dan untuk sementara Yayasan diurus oleh Pengrus.
  • Pengawas berhak mengundurkan diri dari jabatan nya dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya kepada pembina paling lambat 30 (tigapuluh) hari sebelum tanggal pengunduran diri nya.
  • Dalam hal terdapat penggantian Pengawas Yayasan maka dalam jangka waktu paling lambat 30 (tigapuluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengawas Yayasan, Pembina wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan Instansi terkait.
  • Pengawas tidak dapat merangkap sebagai Pembina, Pengurus atau Pelaksana kegiatan.

Pasal 26

Jabatan pengawas berakhir apabila :
  • Meninggal dunia;
  • Mengundurkan diri
  • Bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun;
  • Diberhentikan berdasarkan keputusan rapat Pembina;
  • Masa jabatan berakhir.

TUGAS DAN WEWENANG PENGAWAS

Pasal 27

  • Pengawas wajib dengan iktikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan Yayasan.
  • Ketua Pengawas dan 1 (satu) anggota Pengawas berwenang bertindak untuk dan atas nama Pengawas.
  • Pengawas Berwenang :
  • Memasuki bangunan, halaman, atau tempat lain yang dipergunakan untu Yayasan ;
  • Memeriksa dokumen
  • Memeriksa pembukuan dan mencocokkannya dengan uang kas, atau;
  • Mengetahui semua kegiatan yang telah dijalankan oleh pengurus.
  • Memberi peringatan kepada Pengurus.
  • Pengawas dapat memberhentikan untuk sementara 1 (satu) orang atau lebih Pengurus, apabila pengurus tersebut bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Pemberhentian sementaraitu harus diberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan disertai alasannya.
  • Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal pemberhentian sementara itu, pengawas diwajibkan untuk melaporkan secara tertulis kepada Pembina.
  • Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal laporan diterima oleh Pembina sebagaimana dimaksud dalam ayat 6, maka Pembina wajib memanggil anggota Pengurus nya yang bersangkutan untuk di beri kesempatan membela diri.
  • Dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal pembelaan diri sebagaimana dimaksud ayat 7, Pembina dengan keputusan Rapat Pembina wajib :
  • Mencabut keputusan pemberhentian sementara, atau;
  • Memberhentikan Anggota pengurus yang bersangkutan
  • Dalam hal pembina tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 7 dan ayat 8, maka pemberhentian sementara tersebut batal demi hukum, dan yang bersangkutan menjabat kembali jabatan nya semual.
  • Dalam hal seluruh pengurus diberhentikan sementara, maka untuk sementara Pengawas diwajibkan untuk mengawas Yayasan.

RAPAT PENGAWAS

Pasal 28

  • Rapat pengawas dapat diadakan setiap waktu bila dianggap perlu atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih Pengawas atau Pembina.
  • Panggilan rapat Pengawas dilakukan oleh Pengawas yang berhak mewakili Pengawas.
  • Panggilan rapat Pengawas disampaikan kepada setiap Pengawas secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.
  • Panggilan rapat itu harus mencantumkan tanggal, waktu, tempat, dan acara rapat.
  • Rapat Pengawas diadakan di tempat kedudukan Yayasan, atau ditempat kegiatan Yayasan.
  • Rapat Pengawas dapat diadakan di tempat lain dalam wilayah hukum Republik Indonesia dengan persetujuan Pembina.

Pasal 29

  • Rapat pengawas dipmpin oleh Ketua Umum.
  • Dalam hal Ketua Umum tidak dapat hadir atau berhalangan, maka Rapat Pengawas akan dipimpin oleh satu orang Pengawas yang dipilih oleh da dari Pengawas yang hadir.
  • Satu orang anggota Pengawas diwakili oleh Pengawas lainnya dalam rapat Pengawas berdasarkan Surat Kuasa.
  • Rapat Pengawas sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila :
  • Dihadiri paling sedikit 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Pengawas.
  • Dalam hal korum sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 4 huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengawas kedua ;
  • Pemanggilan sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan dengan tidak diperhitungkan tanggal panggilan dan rapat;
  • Rapat Pengawas kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) har dan paling lambat 21 (duapuluh satu) hari dari terhitung sejak Rapat Pengawas pertama.
  • Rapat pengawas kedua adlah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila dihadiri oleh paling sedikit ½ (satu per dua) jumlah Pengawas.

Pasal 30

  • Keputusan Rapat Pengawas harus diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
  • Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasrkan suara setuju lebih dari ½ (satu per dua) jumlah suara yang sah.
  • Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya, maka usul di tolak.
  • Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara tertutup tanpa ada tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali Ketua Rapat mementukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
  • Suara abstain dn suara yang tidak sah tidak dihitung dalam menentukn jumlah suara yang dikeluarkan.
  • Setiap Rapat Pengawas dibuat berita acara rapat yang di tandatangani oleh ketua rapat dan 1 (satu) orang anggota pengurus lainnya ynag di tunjuk olehrapat sebagai sekretaris rapat.
  • Penandatangan yang dimaksud dalam ayat 6 tidak diisyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akta notaris.
  • Pengurus dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan Rpat Pengawas dengan ketentuan semua Pengawas telah di beritahu secara tertulis dan semua Pengawas memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis dengan menandatangani usul tersebut.
  • keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat 8, mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Pengawas.

RAPAT GABUNGAN

Pasal 31

  • rapat gabungan adalh rapat yang diadakan oleh Pengurus dan Pengawas untuk mengangkat Pembina, apabila Yayasan tidak lagi mempunyai Pembina.
  • Rapat gabungan diadakan paling lambat 30 (tigapuluh) hari terhitung sejak Yayasan tidak lagi mempunyai Pembina.
  • Panggilan rapat gabungan dilakukan oleh Pengurus.
  • Panggilan rapat gabungan disampaikan kepada setiap pengurus dan pengawas secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.
  • Panggilan rapat gabungan harus mencantumkan tanggal, waktu, tempat dan acara rapat.
  • Rapat gabungan diadakan di tempat kedudukan Yayasan atau di tempat kegiatan Yayasan.
  • Rapat gabungan di pimpin oleh Ketua Pengurus.
  • Dalam hal ketua pengurus tidak ada, atau berhalangan hadir, maka rapat gabungan di pimpin oleh ketua Pengawas.
  • Dalam hal ketua Pengurus dan Ketua Pengawas tidak ada atau berhalangan hadir, maka Rapat Gabungan dipimpin oleh pengurus atau Pengawas yang dipilih oleh dan dari Pengurus dan Pengawas yang hadir.

Pasal 32

  • Satu orang Pengurus hanya dapat diwakili oleh Penguus lainnya dalam Rapat Gabungan berdasarkan Surat Kuasa.
  • Satu orang pengawas hanya dapat diwakili oleh Pengawas lainnya dalam rapat Gabungan berdasarkan surat kuasa.
  • Setiap Pengurus atau Pengawas yang hair berhak mengeluarkan 1 (satu) suara dan tambahan 1 (satu)  suara untuk setiap Pengurus atau Pengawas lainnya yang diwakilinya.
  • Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali Ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
  • Suara abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.

KORUM DAN PUTUSAN RAPAT GABUNGAN

Pasal 33

  • Rapat Gabungan adlah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat, apabila dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota Pengurus dan 2/3 (dua per tiga) dari jumlah amggota pengawas.
  • Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Gabungan kedua.
  • Pemanggilan sebagaimana dimaksud ayat 1 huruf b harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.
  • Rapat gabungan kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) terhitung sejak rapat gabungan pertama.
  • Rapat gabungan kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila dihadiri paling sedikit ½ (satu per dua) dari jumlah anggota Pengurus dan ½ (satu per dua) dari jumlah anggota Pengawas.
  • Keputusan Rapat Gabungan sebagaimana tersebut di atas di tetapkan berdasarkan musyawarah untuk mufkat.
  • Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil dengan pemungutan suara berdasarkan suara setuju paling sedikit 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah suara yang sah yang dikeluarkan dalam rapat.
  • Setiap rapat gabungan dibuat berita Acara Rapat yang untuk Pengesahan nya ditandatangani oleh Ketuaa Rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengurus atau Anggota Pengawas yang di tunjuk oleh rapat.
  • Berita acara Rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 menjadi bukti yang sah terhadap Yayasan dan pihak ketiga tentang keputusan dan segala sesuatu yang terjadi dalam rapat.
  • Penandatanganan yang dimaksud dalam ayat 4 tidak disyaratkan apabila Berita Acara Rapat dibuat dengan Akta Notaris.
  • Anggota Pengurus dan Anggota Pengawas dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan Rapat Gabungan, dengan ketentuan semua Pengurus dan semua Pengawas memberika persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis, dengan menandatangani usul tersebut.
  • Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat 7, mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Gabungan.

TAHUN BUKU

Pasal 34

  • Tahun buku Yayasan dimulai tanggal 1 (satu) Januari sampai tanggal 31 (tiga puluh satu) Desember.
  • Pada akhir desember tiap tahun, buku Yayasan ditutuup.
  • Untuk pertama kali nya tahun buku Yayasan dimulai pada tanggal dari Akta Pendirian Yayasan dan ditutup pada taggal 31 (tiga puluh satu) Desember.

LAPORAN TAHUNAN

Pasal 35

  • Pengurus wajib menyusun secara tertulis laporan tahunan paling lambat 5 (lima) bulan setelah berakhir nya tahun buku Yayasan.
  • Laporan tahunan memuat sekurang-kurangnya :
  • Laporan kegiatan Yayasan selama tahun buku yang lalu serta hasil yang telah dicapai.
  • Laporan keuangan yang terdiri atas laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan aktivitas, laporan arus kas dan catatan laporan keuangan.
  • Laporan tahunan wajib ditandatangani oleh Pengurus dan Pengawas.
  • Dalam hal terdapat anggota Pengurus atau Pengawas yang tidak menandatangani laporan tersebut, maka yang bersangkutan harus menyebutkan alasan tertulis.
  • Laporan tahunan disahkan oleh Pembina dalam rapat tahunan.
  • Iktisar laporan tahunan Yayasan disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku dan di umumkan pada papan pengumuman di kantor Yayasan.

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 36

  • Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilaksanakan berdasarkan keputusan Rapat Pembina, yang dihadiri paling sedikit 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Pembina.
  • Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
  • Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan di tetapkan berdasarkan persetujuan paling sedikit 2/3 dari seluruh jumlah Pembina yang hadir atau yang diwakili.
  • Dalam hal korum sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 (satu) tidak tercapai, maka diadakan pemanggilan Rapat Pembina yang kedua paling cepat 3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal Rapat Pembina yang pertama.
  • Rapat Pembina kedua sah, apabila di ambil berdasarkan persetujuan suara terbanyak dari jumlah pembina yang hadir atau yang diwakili.

Pasal 37

  • Perubahan Anggaran Dasar dilakukan dengan akta Notaris dan dibuat dalam bahasa Indonesia.
  • Perubahan Anggaran Dasar tidak dapat dilakukan terhadap maksud dan tujuan Yayasan.
  • Perubahan Anggaran Dasar yang menyangkut perubahan nama kegiatan Yayasan, harus mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
  • Perubahan Anggaran Dasar selain yang menyangkut hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 cukup diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
  • Perubahan Anggaran Dasar tidak dapat dilakukan pada saat Yayasan dinyatakan pailit, kecuali atas persetujuan kurator.

PENGGABUNGAN

Pasal 38

  • Penggabungan Yayasan dapat dilakukan dengan menggabungkan 1 (satu) atau lebih Yayasan dengan Yayasan lainengakibatkan Yayasan yang meggabungkan diri menjadi bubar.
  • Penggabungan Yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dapat dilakukan dengan memperhatikan :
  • Ketidakmampuan Yayasan melaksanakan kegiatan usaha tanpa dukungan Yayasan lain.
  • Yayasan menerima penggabungan dan yang bergabung kegiatan sejenis; atau
  • Yayasan yang menggabungkan diri tidak pernah melakukan perbuatan yang bertentanagan dengan Anggaran Dasarnya, ketertiban umum dan kesusilaan.
  • Usul penggabungan Yayasan dapat disampaikan oleh Pengurus kepada Pembina.

Pasal 39

  • Penggabungan Yayasan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Pembina yang dihadiri paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari jumlah anggota Pembina dan disetujui paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari seluruh jumlah anggota Pembina yang hadir.
  • Pengurus dari masing-masing Yayasan yang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan menyusun usul rencana penggabungan.
  • Usul rencana penggabungan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 2 dituangkan dalam rancangan akta penggabungan oleh Pengurus dari Yayasan yang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan.
  • Rancangan akta penggabungan harus mendapat persetujuan dari Pembina masing-masing Yayasan.
  • Rancangan sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 dituangkan dalam akta penggabungan yang dibuat di hadapan notaris dalam Bahasa Indonesia.
  • Pengurus Yayasan hasil penggabungan ajib mengumumkan hasil penggabungan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia, paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak penggabungan selesai dilakukan.
  • Dalam hal penggabungan Yayasan diikuti dengan perubahan Anggaran Dasar yang memerlukan persetujuan dari Meteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, maka perubahan Anggaran Dasar Yayasan wajib disampaikan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk memperoleh persetujuan dengan dilampiri akta penggabungan.

PEMBUBARAN

Pasal 40

  • Yayasan bubar karena :
  • Alasan sebagaimana yang dimaksud dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir.
  • Tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar ini telah tercapai atau tidak tercapai.
  • Puutusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap berdasarkan alasan :
  • Yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan;
  • Tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit; atau
  • Harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah pernyataan pailit dicabut.
  • Dalam hal Yayasan bubar sebagaimana diatur dalam ayat 1 huruh a dan huruf b, Pembina menunjuk likuidator untuk membereskan kekayaan Yayasan.
  • Dalam hal tidak ditunjuk likuiditor, maka Pengurus bertindak sebagai likuidator.
  • Pembubaran Yayasan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Pembina yang dihadiri paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari jumlah anggota Pembina dan disetujui paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari seluruh jumlah anggota Pembina yang hadir.

Pasal 41

  • Dalam hal Yayasan bubar, Yayasan tidak dapat melakukan perbuatan hukum, kecuali untuk membereskan kekayaannya dalam proses likuidasi.
  • Dalam hal Yayasan sedang dalam proses likuidasi, untuk semua surat keluar dicantumkan kalimat “dalam lingkungan”  dibelakang nama Yayasan.
  • Dalam hal Yayasan bubar karena keputusan pengadilan maka pengadilan juga menunjuk likuidator.
  • Dalam hal pembubaran Yayasan karena pailit, berlaku peraturan perundan-undangan di bidang kepailitan.
  • Ketentuan mengenai penunjukan, pengangkatan, pemberhentian, wewenang, kewajiban, tugas dan tanggung jawab, serta pengawasan terhadap Pengurus, berlaku juga bagi likuidator.
  • Likuidator atau kurator yang ditunjuk untuk melakukan pemberesan kekayaan Yayasan yang bubar atau dibubarkan, paling lambat 5 (lima) hari terhitung sejak tanggal penunjukan wajib mengumumkan pembubaran Yayasan dan proses likuidasi nya dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia.
  • Likuidator atau kurator dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir, wajib mengumumkan hasil likuidasi dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia.
  • Likuidator atau kurator dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir wajib melaporkan pembubaran Yayasan kepada Pembina.
  • Dalam hal laporan mengenai pembubaran Yayasan sebagaimana dimaksud ayat 8 dan pengumuman hasil likuidasi sebagaimana dimaksud ayat 7 tidak dilakukan, maka bubarnya Yayasan tidak berkaku bagi pihak ketiga.

CARA PENGGUNAAN KEKAYAAN SISA LIKUIDASI

Pasal 42

  • Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada Yayasan lain yang mempunyai maksud dan ujuan yang sama dengan Yayasan yang bubar.
  • Kekayaan sisa hasil likuidasi dimaksud dalam ayat 1 dapat diserahkan kepada badan hukum lain yang melakukan kegiatan yang sama dengan Yayasan yang bubar, apabila hal tersebut diatur dalam Undang-undang yang berlaku bagi badan hukum tersebut.
  • Dalam hal kekayaan sisa hasil likuidasi tidak diserahkan kepada Yayasan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2, kekayaan tersebut diserahkan kepada negara dan penggunaannya dilakukan sesuai dengan maksud dan tujuan Yayasan yang bubar.

PERATURAN PERUTUP

Pasal 43

  • Hal-hal yang tidak diatur atau belum cukup diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diputuskan oleh Rapat Pembina.
  • Menyimpang dari ketentuan dalam pasal 7 ayat 4, Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 24 ayat 1 Anggaran Dasar ini mengenai tata cara pengangkatan Pembina, Pengurus dan Pengawas untuk pertama kalinya diangkat susunan Pembina, Pengurus dan Pengawas yayasan dengan dengan susunan sebagai berikut :
PEMBINA :
  • Ketua : Tuan Bambang Irawan.
  • Anggota : Ny Rosana Handayani
PENGURUS :
  • Ketua Umum : Tuan Rachmat Dwiono Basuki
  • Sekretaris Umum : Tuan Daffa Fauzan Basukiputra
  • Bendahara Umum : Ny Lely Wahyuniar
PENGAWAS :
  • Tuan Herie Suprianto
  • Pengangkatan anggota Pembina Yayasan, anggota Pengurus Yayasan dan anggota Pengawas Yayasan tersebut ttelah diterima oleh masing-masing yang bersangkutan dan harus disahkan dalam rapat Pembina pertama kali diadakan, setelah akta pendirian mendapat pengesahan atau didaftarkan pada instansi yang berwenang.
  • Pengurus Yayasan dan baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri dengan hak untuk memindahkan kekuasaan ini kepada orang lain dikuasakan untuk mengajukan permohonan pengesahan dan atau pendaftaran atas Anggaran Dasar ini kepada instansi yang berwenang dan untuk membuat pengubahan dan atau tambahan dalam bentuk memperoleh pengesahan tersebut dan untuk mengajukan serta menandatangani semua permohonan dan dokumen lainnya, untuk memilih tempat kedudukan dan untuk melaksanakan tindakan lain yang mungkin diperlukan.